
20 September 2025
Ungaran,– Sebanyak delapan mahasiswa Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman (UNDARIS) tengah menorehkan sejarah baru dengan mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia. Tak sekadar mengabdi, para mahasiswa ini juga menjadi ujung tombak diplomasi akademik kampus. Di antara deretan nama peserta, sosok Nabila Fahrani, mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam (PAI), menjadi salah satu representasi nyata bagaimana nilai-nilai keislaman dari Indonesia bersinergi dengan keilmuan modern di negeri jiran.
Keberangkatan rombongan yang dilepas langsung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNDARIS ini disambut antusias oleh mitra di Malaysia. Dalam narasi perjalanannya, Nabila dan kawan-kawan tak hanya ditempatkan pada kegiatan pengabdian masyarakat konvensional, tetapi juga dilibatkan dalam forum-forum diskusi keilmuan yang mempertemukan budaya akademik Nusantara dengan sistem pendidikan tinggi berbasis Islam di Malaysia.
Selama masa KKN berlangsung, para mahasiswa mendapatkan porsi kegiatan yang terbagi dalam dua klaster besar. Klaster pertama adalah pengabdian lapangan, di mana mereka diterjunkan ke lembaga-lembaga pendidikan dan komunitas muslim setempat. Di sinilah peran Nabila sebagai mahasiswa PAI menemukan relevansinya. Ia tidak hanya mengajar materi agama, tetapi juga memperkenalkan metode pengajaran karakter khas pesantren yang lazim diterapkan di Indonesia.
“Kondisi sosial keagamaan di Malaysia memiliki kemiripan dengan Indonesia, namun pendekatan pembelajarannya lebih mengarah pada sistem internasional. Saya mencoba mengadaptasi kurikulum PAI dari UNDARIS dengan kebutuhan lokal di sini. Ini pengalaman yang sangat membentuk pola pikir,” ujar Nabila saat dihubungi melalui sambungan pesan singkat, Jumat (27/6).
Sementara itu, klaster kedua menjadi puncak dari misi strategis UNDARIS. Tak lama setelah kegiatan lapangan berjalan, para mahasiswa diajak untuk melibatkan diri dalam agenda akademik di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM). Momen ini menjadi ajang “tukar wawasan” antara mahasiswa UNDARIS dan civitas academica IIUM yang dikenal dengan lingkungan multikulturalnya.

Agenda di IIUM menjadi sorotan utama karena sejalan dengan rencana jangka panjang Fakultas Agama Islam (FAI) UNDARIS. Dalam diskusi tersebut, terungkap adanya potensi kerja sama lebih lanjut, terutama dalam riset kolaboratif dan pertukaran mahasiswa antar kedua institusi. Nabila, yang hadir langsung dalam forum tersebut, mengaku mendapatkan banyak perspektif baru mengenai pengembangan kurikulum berbasis riset yang diterapkan di Malaysia.
“Di sinilah letak poin penting KKN Internasional ini. Kami tidak hanya datang untuk mengabdi, tetapi juga untuk membangun jembatan. Melalui IIUM, saya melihat bagaimana PAI bisa dikemas dengan pendekatan global tanpa kehilangan nilai-nilai dasar keagamaan. Ini bekal berharga untuk saya pribadi dan tentunya untuk adik-adik kelas di UNDARIS nanti,” tambah Nabila.
Menurut catatan yang dihimpun, keberadaan mahasiswa PAI dalam rombongan ini memang sengaja difasilitasi mengingat kedekatan epistemologis antara kurikulum FAI UNDARIS dengan program studi keislaman yang ada di IIUM. Hal ini juga merespons saran dari pihak LPPM UNDARIS agar Fakultas Agama Islam segera menjajaki nota kesepahaman (MoU) dengan IIUM pasca-kegiatan KKN ini usai.
Koordinator lapangan rombongan KKN Internasional menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat Malaysia terhadap kehadiran mahasiswa UNDARIS cukup tinggi. Mereka menilai mahasiswa Indonesia memiliki daya adaptasi dan semangat pengabdian yang kuat. Khusus bagi Nabila dan satu rekannya dari PAI, mereka berkesempatan mengikuti sesi observasi kelas di fakultas syariah dan ushuluddin IIUM, yang memberikan gambaran nyata tentang standar pengajaran Islam tingkat internasional.
Kegiatan yang berlangsung selama beberapa pekan ini ditargetkan tidak hanya menghasilkan laporan pengabdian semata, tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi UNDARIS untuk mengembangkan kurikulum PAI yang lebih adaptif dan berwawasan global. Hal ini sejalan dengan visi UNDARIS untuk terus mendunia tanpa kehilangan identitas keislaman yang menjadi ciri khasnya.
Nabila menutup percakapan dengan penuh harap, “Semoga apa yang kami mulai di Malaysia ini bisa menjadi pintu masuk bagi mahasiswa UNDARIS lainnya untuk merasakan pengalaman yang sama. Kami ingin membuktikan bahwa lulusan PAI dari kampus kecil pun bisa bersaing dan berkontribusi di kancah internasional.”
Dengan berakhirnya masa KKN Internasional ini, delapan mahasiswa dijadwalkan akan kembali ke Tanah Air dalam waktu dekat. Namun, jejaring yang telah terbangun antara UNDARIS, IIUM, dan berbagai elemen masyarakat Malaysia dipastikan akan terus dipelihara sebagai aset penting bagi kemajuan kampus di masa depan.